Tampilkan postingan dengan label gejebettthhh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gejebettthhh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Klinik Kelelawar

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Klinik Kelelawar

Ada satu perasaan aneh yang menjalari batin Renita saat ia memperhatikan lalu-lalang manusia ini. Senyumnya belum juga berhenti mengembang sedari tadi. Wajahnya bersemu jingga. Bukan efek dari penerangan tempatnya berada saat ini. Lebih kepada, ah, ia bahkan bingung harus menerjemahkan perasaannya yang sekarang. Bukan bahagia, bukan juga bangga, lebih kepada…lega. Ia lega akhirnya mimpi ini menjadi nyata. Meskipun mimpi ini bukan miliknya. Renita sekarang justru merasa aneh karena menyebutnya sebagai mimpi. Padahal ide ini dihasilkan tanpa proses tidur terlebih dahulu.
***
“Lama-lama bosen nggak, sih, kita ke sini terus?”
Renita menghentikan aktifitasnya mengetik seketika. Dipandanginya lawan bicara yang saat itu terlihat begitu gelisah. Heri memang kadang seperti itu, terlihat cemas padahal sedang tak ada masalah berarti.
“Mau pulang aja apa?” tawar Renita, yang saat itu sudah melepas satu sumpalan earphone dari telinga kanannya.
“Ya, nggak gitu juga, Re.”
“Terus? Kaloji Torajanya nggak seenak biasanya?” Renita melongokkan kepalanya ke arah cangkir kopi Heri. Masih sisa sekitar setengah gelas, memang. Sesuatu yang tak wajar, mengingat mereka sudah berdiam di tempat ini selama hampir dua jam. Biasanya Heri malah sudah memesan satu cangkir lagi.
Renita pun harus mengurungkan niatnya untuk menatap laptopnya kembali. Heri justru semakin gelisah, membuat Renita lebih khawatir dari sebelumnya. Laki-laki itu terus menggerak-gerakkan satu kakinya di bawah meja. Pandangannya sedari tadi juga tidak bisa fokus menatap Renita, sementara tangannya sibuk meremas rambutnya yang gondrong.
Segera saja Renita melakukan satu manuver, menutup semua aplikasi yang sempat ia buka. Setelah komputernya berada dalam sleep mode, Renita menutup layar laptopnya begitu saja dan mulai mengemasi alat-alat tulis yang berceceran di meja.
“Kita pulang aja, Her. Udah jam dua juga.” katanya, seolah jam segitu memang sudah terlalu larut untuk mereka. Padahal, manusia kelelawar seperti mereka kan, biasanya justru baru mulai membuat pesanan pada jam-jam segini.
“Kok pulang sih, Re?”
Renita menghentikan sejenak aktifitas beres-beresnya dan menoleh ke Heri yang tidak terima.
“Heri, kamu mending tidur.”
“Baru juga jam dua.”
Terlambat. Heri tak dapat mencegah keputusan Renita karena perempuan mungil itu kini sudah berdiri menenteng tas laptopnya. Heri pun malas-malasan meninggalkan tempat kesayangannya ini, satu-satunya kedai kopi yang buka 24 jam di Kota Semarang. Kaloji Toraja yang masih setengah cangkir ia tinggalkan begitu saja.
***
“Re..coba, deh.”
Lamunan Renita seketika buyar, mendapati satu colekan di lengan kirinya.
“Ardi, bikin kaget, deh.”
Laki-laki bernama Ardi tadi hanya menyeringai, kedua tangannya masih menyodorkan cangkir berisi cairan hitam itu ke arah Renita.
“Kan kemarin aku udah nyoba.”
“Ini beda, tadi aku iseng nyampur pake durian. Biasanya kan durian dicampurnya pake kopi Sumatra, ini aku nyoba buat yang Jawa. Gimana menurut kamu?”
Mau tak mau, Renita akhirnya menerima cangkir itu. Ia lalu menyesapnya perlahan, merasakan sensasi lembut dan manis melewati lidah dan kerongkongannya. Renita tersenyum setelah itu.
“Kurang…enak, ya?”
“Nggak seenak kalau pake kopi Sumatra sih, Di. Tapi nggak buruk, kok.”
Ardi hanya tersenyum tipis.
“Eh, tapi ini nggak masuk menu lho.” Kata Renita, menyesap sisa kopi hingga habis.
“Iya. Aku buat itu tadi iseng, siapa tahu bisa dipakai buat variasi nantinya.”
Thanks, ya.”
Dan Renita justru mulai merasa cemas sekarang. Sebenarnya ada lebih banyak alasan baginya untuk bahagia ketimbang cemas seperti sekarang ini. Antusiasme para pegawai yang tiada henti, dukungan dari kolega yang masuk hampir semenit sekali melalui aplikasi pengirim pesannya. Kedai memang baru akan dibuka satu jam lagi tapi rasanya ia tak perlu khawatir mengenai sambutannya nanti. Ia hanya merasa ini kurang adil. Harusnya, bukan ia yang menikmati jerih payah ini.
***
“Jadi, Re. Gimana kalau kita buka usaha kedai kopi?”
Untung saja Renita sedang tak berusaha menyesap cairan hitam itu dari dalam cangkir. Karena jika ya, dia pasti akan menyemburkannya sebelum sempat menelan. Tapi pertanyaan Heri tadi sudah sukses membuat ia mematung. Hanya matanya yang bergerak, memelototi Heri yang justru asyik menyesap House Blend yang tadi ia pesan. Kemarin dia kelihatan cemas, sekarang mengajak mendirikan kedai kopi. Renita tak habis pikir sahabatnya berturut-turut membuat ia hampir terkena serangan jantung.
“Kamu gila, ya?” sahut Renita asal. Ia sudah kembali menghadap laptop, berusaha membuat sibuk pikirannya sehingga ia tak harus meladeni Heri yang mulai absurd.
“Kedai kopi, 24 jam, di area deket kampus. Coba kamu pikir, peluang bisnis bagus itu, Re!” Heri mengoceh seolah tak peduli bahwa Renita sama sekali tak tertarik dengan topik ini.
“Aneh-aneh aja kamu ini, Her. Kita itu udah semester tujuh. Memangnya proposal skripsi kamu udah beres?”
“Skripsi lagi! Kamu mau cepet-cepet lulus? Terus jadi pengangguran? Mending kita coba wirausaha. Bukan cuma dapet pekerjaan, tapi juga menyediakan buat orang lain. Lagipula kan, Re, kita berdua suka ngopi-“
“Yang suka cuma kamu, Her. Aku kan tiap ke sini lebih sering pesen Thai Tea.”
“Oke, kalau gitu, kita kan, sama-sama suka kedai kopi. Kenapa nggak coba bikin sendiri yang vibe-nya lebih sesuai dengan kita dan tentunya lebih…murah.” Heri merendahkan volume suaranya pada kata ‘murah’, yang mau tak mau membuat Renita tertawa.
“Kamu kenapa sih, ngotot banget gini?”
“Kemarin aku mau ngejelasin itu, eh kamu malah ngajak pulang. Lama-lama capek juga tiap hari nyetir ke pusat kota cuma buat ngerjain tugas di kedai kopi. Kan di deket kampus belum ada. Padahal mahasiswa itu target market yang potensial banget.”
“Eh, ada kok, di belakang kampus, yang deket ayam geprek itu.”
“Itu mah angkringan!” Renita tersenyum, meskipun pandangannya masih tertuju ke arah laptop. Ia sudah memprediksi reaksi sahabatnya akan seperti ini. “Yang mau kita buat itu, kedai kopi dengan konsep café gitu lah, tapi tetep merakyat. Pake kursi-kursi kayu, dindingnya didekorasi tipografi-tipografi lucu, menu-menunya dibikin unik, penerangannya pake lampu hias, pasti anak muda suka.”
“Ya udah, good luck, Her!”
“Jadi kamu mau, kan?”
“Nggak!”
“Ah!” Heri melempar tubuhnya sebal, membiarkan punggungnya menyentuh punggung kursi juga. Renita justru tertawa.
***
Pengunjung sudah mulai berdatangan, membuat Renita kewalahan menjabat tangan mereka satu per satu. Kursi-kursi sudah mulai penuh, membuat Ardi dan kedua barista lainnya mulai kewalahan melayani pesanan mereka. Antrian di depan kasir juga mulai mengular. Disti, gadis bertubuh mungil yang bertindak sebagai kasir sampai harus berteriak agar tak kalah dengan keriuhan pengunjung, yang sebagian besar adalah teman kampus Renita sendiri. Usaha Renita menghubungi mereka jauh-jauh hari jelas tak sia-sia. Kebanyakan temannya datang secara rombongan, membuat kedai ini ramai seketika.
“Re! Re! Aku pakai  ini cuma buat hari ini, kan?” kata Fatih, yang tergopoh-gopoh menghampirinya. Laki-laki berkacamata itu sudah lengkap berdandan ala dokter, lengkap dengan jas snelli dan stetoskop.
“Iya, snelli-nya Cuma buat marketing aja, kok. Besok kamu dateng pake kemeja biasa aja.”
“Siap, Re!”
“Tempat kamu di sana, ya!” Renita menunjuk pada satu meja di pojok kiri café, yang sudah ia tandai dengan tulisan “KONSULTASI KESEHATAN GRATIS” di atas blackboard.
Renita melirik jam di pergelangan tangannya. Jantungnya berdegup semakin kencang. Sebentar lagi, ini semua akan dimulai.
***
Ketukan di pintu itu terdengar semakin keras, memaksa Renita untuk segera terjaga dari tidurnya. Ia masih enggan buru-buru membuka pintu, padahal ketukan itu kini sudah disertai oleh keluhan orang yang hampir putus asa.. Beginilah resiko memiliki indekos yang terletak persis di pinggir jalan dan tanpa pintu gerbang. Pintu kamarnya tadi langsung menghubungkan kamarnya dengan jalanan kecil yang sering dilalui mahasiswa untuk kuliah. Meskipun begitu, Renita tak pernah merasa terganggu karena jalanan kecil tersebut memang tak terlalu sering menyumbang kebisingan.
“Re, masih hidup kan, Re?” Suara tersebut terlampau keras, apalagi mengingat waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Jika saja tega, Renita tak akan membukakan pintu dan orang tadi pasti segera diusir oleh penghuni indekos lain yang terganggu. Namun ia jelas tak sejahat itu.
Setelah merasa nyawanya terkumpul, Renita berjalan mendekat pintu, bahkan tanpa repot-repot merapikan rambutnya dahulu. Buat apa, orang ia tidak sedang akan menemui pangeran yang mau mengembalikan sepatu kacanya.
“Lama banget sih cuma buka pintu aja!”
Renita tak segera menyahut. Untuk beberapa saat, ia tak mengenali Heri. Selama ini, ia amat jarang melihat rambut laki-laki itu dikucir ke atas seperti ini. Matanya sampai harus mengerjap beberapa kali, mencoba menyocokkan wajah Heri yang ia kenal dengan lelaki yang berdiri di depan indekosnya ini.
“Kenapa sih, Her?” tanyanya malas.
“Kok chat-ku nggak ada yang kamu balas sih?”
“Udah tidur.”
“Widih, baru jam berapa ini? Udah mau pensiun jadi kelelawar?” suara Heri masih begitu segar dan semangat, padahal laki-laki itu belum tidur sedari tadi.
“Besok aku konsultasi proposal skripsi pagi-pagi, Her. Kamu mau apa, deh?”
“Nih, aku udah buat konsep kedai kopi kita. Aku mau bikin konsepnya kopi Jawa gitu, kan mumpung kita deket sama daerah penghasilnya. Sekalian promosi juga biar orang-orang tahu kalau jenis kopi di sini tuh beragam, nggak cuma yang itu-itu aja.”
Heri menyerahkan selembar kertas yang diterima Renita dengan malas. Seingat perempuan itu, ia tak pernah mengiyakan ajakan bisnis ini.
“Terus kopi Toraja kesayanganmu mau dikemanain?”
“Yee,Toraja mah udah terkenal banget, kopi-kopi Jawa kan belum. Bahkan orang-orang Jawa pasti juga lebih tahu itu atau Gayo, padahal daerah sekitar mereka sendiri jadi penghasil. Makanya ini aku mau ke Wonosobo. Mau ngejar Bowongso mereka yang terkenal itu. Nanti itu bakal aku jadiin salah satu signature.”
Saat itu juga, Renita merasakan kedua bola matanya hampir melompat keluar. Ini sudah ketiga kalinya Heri membuatnya hampir terkena serangan jantung.
“Kamu jangan nekat gini deh, Her. Ini jam berapa?”
“Justru kalau berangkat jam segini, aku bakal sampai di sana pagi. Jadi aku bisa sarapan pake Bowongso langsung. Jadi gimana, kamu mau ikut?”
“Her, jangan gila, deh. Pertama, ngapain kamu pake ngasih konsep kedai kopimu sama aku? Emang aku pernah ngomong iya pas kamu ajak bikin usaha? Kedua, besok aku konsultasi proposal. Aku nggak mau buang masa depan demi impian gilamu itu! Aku tahu kita sahabatan, cuma nggak ini juga, Her.”
“Justru ini masa depan, Re!”
“Masa depan gimana? Ngawur kamu!”
“Kamu ini gimana sih? Ada temen yang mau usaha, bukannya didukung malah dijatuhin!”
“Aku nggak masalah kamu mau bikin usaha apa pun, asal jangan seret aku buat ngikutin ide gila ini!”
“Aku ngajak karena kamu itu sahabat terdekat aku dan yang paling sering nemenin aku ngopi. Sekarang kamu justru bilang kalau ini gila. Nggak nyangka aku, Re!”
“Her, nggak ada orang yang dateng ke indekos temennya jam dua begini, kecuali orang itu nggak waras!”
***
Renita menyapukan pandangannya ke seluruh area kedai yang sudah cukup tenang, karena sebagian besar pengunjung sudah duduk bersama pesanan mereka masing-masing. Kini yang terdengar hanya guraun kecil di setiap meja. Renita sedikit lega, karena kerumunan yang sekarang lebih mudah ia taklukkan daripada saat mereka baru saja datang. Ia mengetuk microphone tiga kali dan setiap obrolan di meja-meja itu pun terhenti. Perhatian kini sepenuhnya tertuju padanya.
“Selamat Malam, semua!” sapa Renita, yang disambut oleh koor ‘malam’ yang panjang. “Selamat Datang di Grand Opening kedai kopi saya!”
Tepuk tangan pun berganti mengisi suasana kedai.
“Sebetulnya, saya tak pernah memiliki keinginan untuk memiliki satu kedai kopi.”
Kali ini, keheningan kembali mengisi setiap sudut kedai itu. Renita menggigit bibir bawahnya, tak pernah menyangka bagian ini akan begitu sulit.
“Ini ide teman saya, Heri. Almarhum Heri Stefiano.” Keheningan masih juga belum pergi. Kali ini bahkan lebih pekat. Hampir semua pengunjung menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Heri sahabat kental saya, teman ngopi yang paling setia. Dia sangat bersemangat mendirikan satu kedai kopi berkonsep café dengan harga terjangkau. Saya orang pertama yang ia ajak dan sayangnya waktu itu saya tolak mentah-mentah. Ide ini terlalu gila. Tapi kita semua tahu Heri, dia teramat keras kepala, terlalu ngotot, dan kadang juga…sembrono.”
Kedai masih dipenuhi oleh keheningan, meskipun sudah tak mencekam seperti tadi.
“Akhirnya, dengan bantuan beberapa teman saya dan juga Heri, saya memutuskan untuk mendirikan kedai kopi ini, sebagai penebusan rasa bersalah saya, dan juga penghormatan terakhir untuknya. Saya ingin Heri tetap hidup di tengah-tengah kita. Konsep dasarnya masih sama seperti yang pernah diutarakan Heri, yaitu kopi Jawa. Maka saya mohon maaf jika mungkin teman-teman tak menemukan menu-menu semacam cappuccino, latte, maupun kopi-kopi Gayo dan Toraja. Nama menu kami bisa dibilang lugu, diambil dari nama daerah-daerah penghasil kopi di Jawa Tengah ini. Mulai dari Banaran, Gesing, Jolong, Tempur, Bowongso. Heri ingin memperkenalkan keberagaman kopi nusantara dan ia memulainya dari Jawa.”
Renita merasakan sesak di dadanya perlahan melonggar.
“Selanjtunya, kedai ini saya namakan…Klinik Kelelawar.” Keheningan pun pecah oleh tawa lirih para pengunjung. “Terdengar aneh memang, tapi rasanya tak ada lagi nama yang lebih sesuai. Saya dan Heri sering menyebut diri kami sendiri sebagai kelelawar, makhluk-makhluk yang justru bisa bekerja maksimal di malam hari. Dan klinik di sini, tak cuma sebagai sebagai satu kiasan, tapi juga bermakna literal. Saya meminta bantuan teman-teman saya dari kedokteran untuk membuka konsultasi kesehatan di sini. Bisa ditemui di pojok sebelah kiri kedai ini, tanpa biaya sepeser pun. Karena saya mau, kedai ini tak sekadar menyajikan kenikmatan, tapi juga memberikan kesehatan, layaknya kopi.”
Kini sesak di dadanya sudah hilang seluruhnya, menciptakan satu kelegaan luar biasa bagi Renita. Ia serasa sudah dimaafkan. Tepuk tangan segera saja memenuhi ruangan begitu ia menyelesaikan pidatonya itu. Satu hutangnya lunas.
***
Usai pertengkaran itu, Heri langsung pergi ke Wonosobo seorang diri. Ia meninggalkan indekos Renita begitu saja, bahkan tanpa berpamitan lagi. Sedangkan Renita menjalani hari itu dengan penuh kesialan. Proposal skripsinya ditolak mentah-mentah dengan alasan latar belakang yang tidak kuat. Ia kemudian mengutuk kedatangan Heri pada jam dua pagi dan pertengkaran mereka, awal mula dari kesialan itu. Andai Heri tak datang dan menceritakan ide gilanya itu, mungkin nasib buruk tak akan mengikutinya seperti ini. Namun hari itu memang satu yang terburuk dan Renita betul-betul berharap bahwa Heri tak datang malam itu. Kali ini dengan alasan lain, karena kekesalannya jelas tak berarti apa-apa dibandingkan dengan kehilangan yang harus ia tanggung.
Waktu itu pukul 10.23. Renita ingat betul, karena ia sempat melihat jam digital di layar HPnya saat pesan masuk itu datang beruntun di group chat angkatannya. Ia tahu kabar itu dari sana, seperti yang lainnya, seolah dunia tak harus repot-repot membagi kabar sahabatnya itu secara lebih intim. Beberapa menit kemudian Renita mendapatkan satu telepon dari teman dekat Heri yang lain, mengkonfirmasi kebenaran kabar itu. Heri meninggal dalam satu kecelakaan lalu lintas di Temanggung, saat ia akan pulang ke Semarang dari kunjungannya ke Wonosobo.
Berita itu memenuhi rongga dada Renita, menghalanginya untuk mengeluarkan berbagai emosi yang saat ini ia rasakan. Sendi-sendinya seperti lumpuh dan ia menjadi mati rasa. Ia bahkan tak lagi bisa mengeluarkan air mata. Renita tak mau lagi mendengar apa-apa tentang berita ini, tidak dengan kondisi Heri yang terakhir atau detail mengenai kecelakaan itu. Semua itu takkan mengubah apa pun. Begitu pula dengan perasaan bersalahnya dan segala cara yang ia tempuh untuk menghukum dirinya sendiri waktu itu.
Maka, beberapa hari setelah Renita sudah terlampau lelah untuk berkabung, ia memungut kembali kertas itu, satu-satunya peninggalan Heri untuknya, yang sempat ia abaikan dulu. Inilah satu-satunya cara agar Heri bisa kembali hidup, setidaknya di dalam hati.


Minggu, 02 September 2012

Be Grateful and Love What You Do!


Hello, howdy? Me myself have an amazing but tiring day cos College has already started. I've got two assignments but only have finished one :D I got two days free so here I'm updating this blog. So yeah, even though the lecture has started but there are still some events held like Expo(Student's Extracurricular Show) and AAI (Islamic Event). During the AAI, the moderator gave a question to us if there's still student who actually not want to enter my university. Surprisingly there are some raising their hands. Not included me ofc. Then the moderator gave us a great advice: "You have to grateful being a student in this university. By entering here, it means you have cut 9 students' dream to get here" Well, I shouldn't be shocked of this because actually my university isn't the number one favorite uni. But still,though maybe this isn't their dream uni, they should be grateful cos many people outside still look for an uni, or HAVE TO study in private uni which costs so much money.This uni, even maybe haven't been the best, has also been a favorite for some people. This phenomenon also reminds me to one of Noel's quotes:
"Nothing bothers me more than when groups like Pearl Jam and Nirvana whine and moan and complain about life and being famous. Let me tell you, being famous is great! The feeling when someone asks you for an autograph, unbelieveable! I just think Americans are tired of people telling them how crap their lives are. I think when people listen to our music, we tell them how good their lives could be. I guess I just can't understand the thoughts of Eddie Vedder or that whole bit... I mean, lad, if you hate your job so much, why don't you fuckin' go work at a car wash or McDonald's or something?" 
Noel, he somehow arrogant but always reminds us to be grateful to the God. Life is just simple. Just love what you've got and it will be more beautiful. Maybe it's not same as what you've expected. But who knows it will be better someday? God knows the best for us, gives what we NEED, not what we WANT. So if you think you haven't got what you have dreamed for so long, God may have better plan for you. Time is the door and patience is the key. Don't worry, cos GOOD THINGS ARE COMING OUR WAY!

Rabu, 21 Desember 2011

Fanfic Lagi!!!!!!!!

Halo, semua. Kembali lagi saya, satu-satunya admin di blog ini. jaah, kayak blog terkenal aja. okeh, to the point, saya ada fanfic baru niy. Masih seputar Martin dan Coldplay. Pengennya sih, yang lain, tapi, lagi fokus ke ini dulu, hehe. Masih terinspirasi dari lagu Charlie Brown dan Xylobands yang bikin glowing in the dark! Okay, just check this out and don't forget to leave a comment after reading this!

Aku sudah mendengarkannya. Ya, lagu yang akan dirilis band-nya Martin sebagai single ketiga. Dan tebak saja, aku sudah jatuh cinta pada lagu itu. Memang, aku harus mendengarkannya sampai tiga kali untuk benar-benar merasakan bagaimana luar biasanya lagu ini. Ini dia lagu terbaik yang pernah mereka ciptakan. Setiap bagiannya benar-benar luar biasa. Liriknya, petikan gitar, ketukan drum, dan suara Martin yang, haruskah kujelaskan bahwa dia memiliki vocal yang lebih dari prima? Intinya, aku sedang menjalin hubungan yang sangat intim dengan lagu ini.

Martin sudah memainkan lagu ini di rangkaian tour-nya rupanya. Well, sudah agak lama. Hanya aku dulu tak memperhatiakn karena lagu ini bukan lagu favoritku. Tapi sekarang, aku tak akan pernah melewatkan sedikitpun hal-hal yang terkait dengan lagu ini. Dan, ternyata mereka juga sudah merilis video live versionnya. Mengapa Martin tak bilang? Waktu lagu ini ditetapkan sebagai single ketiga saja dia bilang. Aku harus meneleponnya.

Aku memencet beberapa digit nomor dan menekan tombol hijau di ponselku. Sedikit lama aku harus menunggu. Ke mana kau, Martin? Tapi akhirnya, ini dia!

“Wow, adakah sesuatu yang darurat sampai kau meneleponku malam-malam begini.”

“Belum ada jam 8! Apa aku menganggumu?”

“Tidak, tidak, tidak. Masih sedikit lama hingga aku naik ke panggung. Ada sesuatu?”

“Jadi kalian sudah merilis video Charlie Brown yang live?”

“Dan kau baru mengetahuinya?” ada nada pembelaan diri di sana.

“Kenapa kau tak bilang?” kini giliran aku yang membela diri, sedikit gemas dengannya.

“Apakah koneksi internet di rumahmu mati? Atau….kau terlalu sibuk hingga tak sempat mencari berita tentang kami?”

Huuufft… terlalu sibuk?

“Dua hari ini aku memang sibuk dengan interviewku untuk NME. Kau tahu aku sedang berusaha agar aku diterima di sana. Ini percobaan yang keempat.” ada nada putus asa setelah itu. Karena aku tak yakin akan diterima. Tiga kali kesempatan aku gagal. Dan masih berharap beruntung di kesempatan keempat ini.

“Ya. Tapi kau tak bilang ada interview dua hari ini.”

“Pentingkah itu?”

“Setidaknya aku bias mendookanmu.” kembali ada sebuah nada pembelaan. Atau mungkin sebuah perhatian?

“Kau masih bisa mendoakanku. Pengumumannya masih besok.”

“Okay. Oh,ya. Aku berharap kau menonton X-Factor mala mini. Kami akan tampil malam ini dan ada sesuatu yang special. Memang bukan yang pertama kali. Tapi melihat kau sibuk dua hari ini, kau pasti belum melihatnya.”

Aku mengerutkan dahi.

“Okelah. Bye!”

Sesuatu yang special? Wow, mereka membuat kejutan lagi. Sejak album studio kelima mereka, banyak sekali kejutan yang mereka munculkan. Dari musik yang lebih segar, konsep graffiti yang mengagumkan, nama album yang jelas belum pernah kau dengar sebelumnya, hingga kostum gajah dan Martin yang mengendarai unicycle dan banyak hal lain yang kalau kuceritakan cerita ini jadi tidak ada akhirnya.

Aku segera menyalakan TV. Meski sudah tahu X-Factor baru akan mulai 30 menit lagi. Jadi kuputuskan mendengarkan Charlie Brown. Sudah kubilang, aku sedang jatuh cinta dengan lagu ini. Kurasa aku juga akan memutar lagu yang lain. Or let this song on my repeat. Entahlah, aku selalu ingin memutarnya kala lagu ini selesai.

Light a fire a fire a spark. Light a fire a flame in my heart. We’ll run wild. We’ll be glowing in the dark. Aku tak bisa untuk tidak menari. Mungkin aku sudah sehiperaktif Martin sekarang. Bodohlah, aku di dalam rumah. Tidak aka nada orang yang melihat.

All the highs all the lows. As the room a-spinning goes. We’ll run riot. We’ll be glowing dark. Aah, itu dia X-Factornya. Aku melepas headphone yang sedari tadi menempel di telinga. Saatnya menonton Martin. Pasti dia juga memainkan Charlie Brown.

Martin, Jonny, Guy, dan Will sudah di panggung. Martin memakai kaus biru lengan pendeknya. Ya, ya, otot-otot lengannya terlihat jelas. Dan seperti dugaanku, mereka memainkan Charlie Brown. Aku pun segera bersorak kegirangan bak anak kecil yang mendapat 3 lollipop. Tapi, astaga, pandanganku beralih pada sekumpulan cahaya warni-warni yang memancar kala mereka bermain. Kadang hidup kadang juga padam, mengikuti ritme lagu yang sedang dimainkan. Aku benar-benar kagum. Inikah hal spesial yang diberitahukan Martin tadi? Dan…itu jelas bukan bagian dari lightning mereka, sepertinya dari penonton. Bukan glow stick tapi.

Charlie Brown selesai, kini mereka memainkan Paradise. Cahaya warna-warni tadi masih memancar dari arah penonton. Dan tunggu, cahaya itu dihasilkan oleh gelang yang mereka pakai. Ya, kamera televisi baru saja menyorot kea rah mereka. Terlihat jelas mereka mengenakan gelang yang mengeluarkan cahaya. Benar-benar kejutan yang indah, boys!

Butterfly confetti mulai bertebaran. Bagian mereka sudah hamper selesai berarti. Saat mereka sudah menghilang dari panggung, teleponku berdiring. Aku harap ini kau, Martin. Kau harus jelaskan tentang gelang ajaib itu!

“Ya?” jawabku girang, padahal belum tentu itu Martin.

“Aku hanya disuruh Martin untuk memastikan apa kau menonton kami tadi.” sahut suara di seberang sana. Jelas bukan Martin. Tapi aku tahu siapa ini!

“JONNYPUFF!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku girang. Ya, ini Jonny. Kekasih Martin sesungguhnya. Haha, kami, para fans, selalu berpendapat demikian.

“Astaga, kalian benar-benar melakukannya! Jonnypuff!” ada tawa riang di sana. Bukan hanya milik Jonny, mungkin yang lain juga ikut bergabung. Aku tersenyum riang.

“Katakan padanya, dia berhutang penjelasan tentang gelang itu. Atau kau mau mengambil alih tugasnya?”

“Yang jelas namanya Xylobands. Kau bisa mendapatkannya kalau kau juga punya selembar tiket. Selebihnya, Martin menyuruhku untuk bilang agar kau membaca interview-nya di internet.”

“Sial, ini pasti gara-gara aku terlambat mengetahui video live Charlie Brown kalian.”

“Haha…kudengar kau sibuk dua hari ini. Bolehkah aku ikut mendoakanmu?”

“Apa? Dasar Martin, dia cerita semuanya?”

Jonny tertawa sebentar.

“Tidak semua. Hanya saat kau menangis melihat video kami saat tampil di festival itu dan interview-mu dua hari ini. Dia bilang kau fan yang sedikit aneh. Hahahaha…..” kembali terdengar tawa riang yang riuh. Pasti bukan hanya Jonny.

“Apa? Katakan pada Martin aku akan menjewernya Minggu nanti. Dan tunggu, apa kau bersama yang lain?” tanyaku penasaran.

Kembali ada tawa yang riuh.

“Will’s here!” suara lain menyahut.

“dan Guy!” satu suara lagi. Astaga, mereka bertiga ada di sana semua.

“Tadi Phil juga ikut sebentar.” Kali ini suara Jonny lagi.

“Lalu di mana Martin?”

“Dia ada interview. Kau mau menunggu?”

“Tidak, tidak. Bilang saja aku akan mendaratkan puluhan jeweran kalau dia dating.”

Kembali terdengar tawa yang riuh.

“Kalau begitu, bye! And Good Luck!”

“Thanks, Jonny! Bye!”

Telepon terputus dan aku tersenyum kembali duduk di sofa. Tapi tak berapa lama kemudian, giliran ponselku menerima sebuah pesan. Dari Martin. Isinya : Aku tunggu jewerannya. Aku tertawa kali ini, namun pesannya tak kubalas. Kembali kupasang headphone dan mendengarkan Charlie Brown. Sudah malam dan aku harus tidur.


Senin, 19 Desember 2011

Martin Lagiiii!

Halo, semua! Saya kembali lagi dengan fanfic yang baru setelah 'The Simple Martin' yang kemarin itu. Kali ini gak ada judulnya. Haha, bingung. Okeh, kalu yang kemarin terinspirasi dari video Coldplay live in Glastonbury 2000, kali ini terinspirasi sama single mereka yang bakal jadi single ketiga, yaitu : Charlie Brown! Bagus loh, for me this is the best track in this album. bentar lagi juga bakal dibikin video clipnya. yang katanya, pake model topless gitu. well, entah itu cuma rumor atau memang bener akan begitu. agak gak percaya masalahnya mas-mas Coldplay kan bukan tipe begituan, mereka kan santun banget. tapi kemarin liat update foto dari salah satu model yang ikut di video emang kayaknya beneran sih, modelnya seksi gitu. ah, udahlah, check this fanfic out aja :

Aku menggigil di dalam sini. Padahal aku sudah memakai jaket tebal ini sejak tadi. Hujan amat deras di luar sana. Angin juga cukup lebat. Aku memandanginya dari jendela sambil sesekali meminum secangkir coklat panas. Sial, coklat ini pun tak bisa untuk sekedar mengurangi rasa dingin yang kurasakan. Aku masih menggigil. Kudengar sebuah suara beserta getaran dalam waktu yang bersamaan. Oh, ternyata ponselku. Siapa yang menelepon di tengah hujan deras begini? Pangeran tampan yang kehujanan lalu minta diberi payung? Tanpa melihat nama di layer ponsel, aku langsung mengangkatnya.

“Hey, bisakah kau bukakan pagarmu? Aku akan mampir.” Oh, tebak siapa. Ternyata Martin.

“Hujan deras begini?”

“Justru itu, hujan sangat lebat. Aku tidak mau berada di jalan saat hujan begini derasnya.”

“Okay.”

Setidaknya, pangeran tampan itu tidak minta diberi payung. Belum sempat aku menaruh ponselku kembali, suara klakson mobil sudah terdengar. Astaga, cepat sekali dia. Jadi dia sudah di depan pagar saat menelepon tadi. Secepat kilat aku meraih paying dan segera membuka pagar. Hujan masih sangat lebat, sekuat tenaga aku mencoba melawan kedinginan yang sedang aku terobos. Dari dalam Martin tersenyum, seperti biasa. Dan, Ya Tuhan, di mana kedinginan yang tadi? Hilangkah hanya karena Martin tersenyum tadi?

“Kenapa kau begitu lambat?”

“Hey, aku tak tahu kau sudah di depan pagar saat kau menelepon.” Kataku membela diri.

“Harusnya setelah kau bilang ‘okay’, pintu pagar sudah kau buka.”

“Memangnya rumahku ini hotel dank au tamu VIP-nya?” jawabku jengkel. Sejak kapan Martin menyusahkan seperti ini.

“Memang bukan. Tapi kau tetap harus memuliakan tamumu, kan?” katanya lalu tersenyum lalu meletakkan gitar yang dia bawa tadi. Well, ada konser akustik gratis untukku nanti. Ia lalu melepas jaketnya dan kini ia hanya berkaos lengan pendek biru. Dengan jelas kau bisa melihat kedua otot lengannya yang kekar. Aku harus menelan ludah sendiri. Dan, di manakah kedinginan yang membuatku sangat menggigil tadi?

“Well, kau mau coklat?” tanyaku mengakhiri kekakuan.

“Kalau kau tak keberatan.”

“Tentu. Aku ingin memuliakan tamuku.” Jawabku sedikit sinis dan dia hanya tersenyum.

Martin sedang membuka-buka majalah ketika aku kembali dari dapur. Tersenyum melihat sebuah artikel tentang dia dan band-nya.

“Sampul yang buruk. Harusnya bukan hanya kau yang ada di sampul.” Kataku sedikit mengejek sambil meletakkan secangkir coklat di hadapannya.

“Haha… sudah kubilang aku tak berbakat jadi model. “

Dia segera meminum coklatnya dan mengambil gitar. Well, saatnya akustik gratis dan eksklusif lagi.

“Kami akan segera merilis single ketiga.” Katanya riang dan sekali lagi meminum coklatnya.

“Princess of China, kan?”

“Bukan… tidak jadi yang itu. Ada single yang menurut kami lebih baik dan harus segera dirilis.”

Aku mengerutkan kening. Mencoba menebak-nebak judul lagu itu.

“Biar kutebak, Hurts Like Heaven?”

Dia hanya menggeleng. Tapi matanya menantangku untuk menebak lagi.

“Us Against The World?”

“Kenapa kau payah sekali?” kali ini dia yang meledek.

“Kukira tidak. Kedua lagu itulah yang terbaik. Kalau begitu, Don’t Let It Break Your Heart?”

“Payah juga. Lagu itu bahkan belum kami mainkan live. Aku ragu kau sudah mendengarkan semua track.”

“Percayalah, Martin. Aku sudah mendengarkan semua dan.. ketiga lagu itulah yang terbaik menurutku. Tentunya setelah Every Teardrop Is A Waterfall.”

Dia tersenyum dan berdehem sebentar. Pasti sehabis ini dia akan mulai bernyanyi.

“Apa kau tak memperhatikan yang ini?”

Dia lalu memetik gitarnya dan mulai memainkan sebuah lagu.

“Wooh..ooh..ooh..ooh. Stole a key. Took a car downtown where the lost boys meet. Took a car downtown and took what they offered me.”

Aku mendengarkannya dengan seksama. Mencoba mengingat judulnya. Tapi entahlah tersimpan di otak sebelah mana. Aku benar-benar lupa. Dan Martin masih terus bernyanyi, hamper di pertengahan lagu rupanya.

“Light a fire a fire a spark. Light a fire a flame in my heart. We’ll run wild. We’ll be glowing in the dark.”

Aah, lagu ini. Ya, kurasa track ini berada setelah Paradise. Tepat setelahnya. Tapi, kenapa aku sama sekali lupa judulnya. Sebentar, kurasa judulnya seperti sebuah nama. Nama yang cukup terkenal. Oh, Tuhan. Di mana otakku menyimpannya?

Martin masih tetap bernyanyi. Tapi matanya terus menantangku untuk segera menemukan judul lagu ini. Sial, aku benar-benar tak ingat.

“So we’ll soar luminous and wired. We’ll be glowing dark. “

Bahkan sampai akhir lagu pun aku belum ingat.

“Bagaimana? Ingat?” tanyanya dan aku hanya bisa menggeleng.

“Tapi, sepertinya lagu ini berada setelah Paradise. Dan yang sedikit bisa kuingat adalah judulnya seperti sebuah nama. Nama yang cukup terkenal!”

“Charlie Brown!” kata Martin mantap, membuatku mataku berbinar.

“Itu dia! Benar,kan? Seperti nama sebuah tokoh kartun. Kurasa aku harus mendengarkannya lagi. Kalau kalian memilihnya sebagai single, berarti luar biasa!”

“Memang luar biasa. Well, kata kebanyakan fans.”

Martin menoleh keluar, aku mengikutinya. Hujan sudah reda dan mungkin dia akan segera pulang.

“Kau lihat di luar,kan?”

“Ya, mau pulang sekarang?”

“Ehhmm, kurasa kita belum bercanda tadi.” Katanya kemudian tersenyum lebar, gigi-giginya tampak lagi dan aku tak bisa untuk tidak memandanginya.

“Hah, aku tak mau membuat kau awet muda. Juga.. tak mau melihat gigimu lama-lama.”

Dia tersenyum lebar lagi. Kali ini dia tak lagi malu bahkan terkesan ingin memamerkan gigi-giginya.

“Baiklah. Kalau begitu, aku pulang.”

Dia kembali mengenakan jaketnya, lalu meraih gitarnya dengan cepat.

“Bye!” katanya sambil tersenyum, namun tak selebar tadi. Buru-buru dia menuju pintu tapi tak segera membukanya. Dia justru berbalik dan menatapku.

“Oh,ya! Satu hal lagi, kau harus ke rumahku Minggu nanti. Apple dan Moses merindukanmu.”

Aku mengangguk dan tersenyum. “Pasti.”

“Okay. Bye, lagi.”

Aku tersenyum dan melambaikan tangan. Kudengar mesin mobil dihidupkan. Dari dalam kulihat mobilnya sudah melewati pagar.


Oh, ya. Rencananya saya mau buat blog khusus buat fanfic saya. tapi di tumblr, hehe. Oke deh, sekian. Kalau baca, don't forget to leave the comment, key? That would be very worth for me :)


Rabu, 07 Desember 2011

Curhatan Saya

Halo, lagi. Lagi ada mood ngeblog niy, jadi saya posting segala sesuatu yang ada di kepala saya. termasuk mungkin benang-benang halus macam jaring laba-laba yang sudah lama ada di otak saya ini.
How's today? How's this week?
Let's start by today. I woke up with a very surprising feeling. Bukan karena dikejar-kejar hantu atau orang gila. But i dreamed of Fix You. ga ngenakin sebenarnya mimpinya. Jangan pikir saya mimpi dinyanyiin Chris Fix You *emang sih ngarep. tapi jujur bukan itu. horror malah. dalam mimpi itu saya lagi pelajaran sejarah sama guru SMA saya yang super horror itu. *tanya dimana Fox You-nya? Sabar, waktu itu lagi pembagian nilai juga, naah nilai saya itu termasuk jelek sekali. sampai sedih banget saya. dan entah bagaimana, tiba" mereka semua pada koor 'Lights will guide you home. And ignite your bones. And I will try to Fix You'. habis itu juga saya teriak "Martiiiin Martiiin. Lagu itu diciptain Chris Martin." tapi ga tau kenapa pada ga ngedenger semua. padahal teriakan saya keras lho. lalu saya liat ada bayangan empat orang kayak Coldplay era X&Y. tapi ga jelas, malah saya langsung terbangun gelagapan. perasaan udah ngga enak. lalu saya log in fb dan liat di beranda kalau, tim bola kesayangan saya, Man. United kalah dari FC Basel. So, we cannot continue to the next level. huuft, sedih pasti. tapi saya harap today isn't my worst day. and Alhamdulillah, pas di sekolah saya denger kabar kalau nilai bahasa Inggris saya bagus. hihkhiihihi.
and THIS WEEK!
i cannot say how this week occurs for me cause today's still Thursday. Tapi biarpun gitu, 4 hari ini kayak roller-coaster banget. seneng bisa seneng banget, tapi giliran dapet buruk juga ga terlalu buruk hehe. okay deh, segini dulu curhatan saya, bye

Rabu, 02 November 2011

hellooooooooooo

Haven't been here for so long. so sorry before. im kinda busy with school so it's hard to post here. i spend a lot of time in tumblr cause i have just to reblog the post hehe
key, here are my tumblr (s) that maybe you want to follow :

PERSONAL

MANCHESTER UNITED

I'll be come back! Don't worry but maybe i will just rarely post in this page. AND THANK YOU FOR THE VISITORS! YOU'RE ROCK!!!!!!!!!!!!

Selasa, 13 September 2011

Nothing but a Worst Day :(

Okay, long time no post and here I come with a bad news. I have to do 6 daily tests while ma mind is still freezing. I could pass the first one well but i dun think so for the others. i've been 3rd grader now and the subject is getting harder whereas im not getting better. yes, it sucks so much. but life goes on and if i dun move on I'll be left behind. I may have such a worst day in ma whole life but KEEP MOVIN' ON!

Kamis, 11 Agustus 2011

Ehm,,,,,

I NEED A FRIEND TO TALK WITH, TO SHARE WITH, AND BE A GUIDE WHEN I GOT THE WRONG WAY

I'VE GOT IT

BUT.....

JUST LOST IT

Selasa, 09 Agustus 2011

These Quotes Make Me Dare Living My Dream

“When you are living your dreams it doesn’t feel like work, but it’s important to take some time away for yourself. It’s goot to make some time for your own company.”

"If you are willing to walk the path of the dreamer anything is possible"

"
There's always one person or group of people who try to stop you following your dreams. Fuck them. Follow everything you believe in."



THESE FABULOUS QUOTES COME FROM THIS PERSON :


SOMETHING I HATE MOST

"I FUCKING HATE WHEN I HAVE PLANNED SOMETHING BUT I HAVE TO CANCEL IT JUST BECAUSE SOMEONE FORCE ME TO DO SOMETHING I ACTUALLY HATE"

Kamis, 04 Agustus 2011

All Girls are Beautiful

" I'm beautiful in my way
'Cause God makes no mistakes
I'm on the right track, baby
I was born this way"

Hi, guys! especially for ladies, I'm sure you all have heard this song. yeap, it's Lady Gaga-Born This Way . Very nice song, and if you listen to it, you'll have no regret to be who you really are, girls! We were born by our own way, live by our own way, and look by our own way. All girls were born to be beautiful. there's no handsome girl. rite? All girls are BEAUTIFUL, in their own way exactly. beautiful doesn't mean you're a super-model, celebrity, fashion stylist, or etc. beautiful is being who you really are, enjoying what you wear, what make up you do, and any kind of works you do. beautiful doesn't mean dating a hot guy either.

Dun be jealous with super-model. maybe you dun have sexy body, good heel, or shiny hair. or maybe you cannot date any hot guy. dun worry, girls. you're beautiful. be confident and share your smile to the world. so this whole world will realize how beautiful you are.

maybe we aren't as beautiful as a super-model. but every girls were born in their own way, we're not same. we're different. a super-model is beautiful in her way as super-model. and we, we are beautiful in our own way. let me close this post by a Gerard Way's quotes :

"Hey, girls, you're beautiful. Don't look at those stupid magazines with sticklike models. Eat healthy and exercise. That's all. Don't let anyone tell you you're not good enough. You're good enough, you are too good. Love your family with all your heart and listen to it. You are gorgeous, whether you're a size 4 or 14. It doesn't matter what you look like on the outside, as long as you're a good person, as long as you respect others. I know it's been told hundreds of times before, but it's true. Hey, girls, you are beautiful."


Kamis, 28 Juli 2011

WORDS

THESE ARE JUST MY WORDS :
"To face all these hard times, you don't need to be genius. Just DARE! Dare to face failure. Dare to get up first when the rest of the world still fell apart."

" Everybody's good at ONE THING. not everything."

" The question for any works isn't how could you but how DARE you."

" People change because the world is changing. "

" All the existing things have its own end. "

"We said miss because something is missing. "



Minggu, 10 Juli 2011

Some Unnecessary Words

Long time no blogging, i miss it honestly. but i dunno why, just feel like i've just lost my mind and have no idea for what i have to write here. but now, here i am, try to collect some words and post it. but still : it's an unnecessary thing. today, im back to the school after 3 weeks holiday. i really enjoy the holiday and wish if i got back to school i would find a fresh mind. BUT........... I do not! still so lazy to wake up and take a shower. I AM DEFINITELY NOT READY FOR STUDYING! but, again, thank you God, there's no study in this first day back to school. we are just gathering together with friends and teacher and making a class-administration. guess what? the teacher choose me to be the secretary. uh, so upset! aarrgh, honestly i just wanna be the member of my class and not to be one of the administrations.

well. forget it! i got worse news for myself. I GOT TOOTHACHE! and it very tortures me. i cannot eat well. i dunno since when i got this disease. but it sucks, DEFINITELY SUCKS!!!!!!!!!!!!!! i've tried to drink medicine but it doesn't work. aarrrgggh, many bad news for me. BUT I HOPE AS THE DAYS GO BY, AS SOMEDAY BECOMES TODAY, AS THE PAST BECOMES RECENT, ALL THE BAD WILL ALSO BECOME THE GOOD THINGS!

Jumat, 10 Juni 2011

In 1979 it was a Good Good Year!


" Life was simple,
Roger was working round the clock to make a living,
No computers, none of that, he used his two hands,
Ignored the cold war,
His wife would keep him warm"

Have you ever heard that song? If you haven't, poor you! :p this is
Good Charlotte - 1979 ! this is from their newest album, Cardiology. this song is so wonderful, lyricsty, and very enjoyable. lagu yang emang dimainin akustik ini benar-benar cocok buat dijadiin single, easy listening and easy remembering. naah, ini lagu bentar lagi bakal ada videonya dah, @GoodCharlotte mengabarkan bahwa they are casting a family who has twin brothers for the young Joel and Benji. jadii buat para keluarga yang punya anak kembar, pada ikutan giih, siapa tahu kepilih.
naah, 1979 sendiri menurut gua adalah lagu yang menceritakan tentang kehidupan jadul The Maddens where in 1979 they were born. dari liriknya juga kental banget kalo nih lagu nostalgia. dari lirik awal di atas tuh! bait pertama :
"Life was simple,
Roger was working round the clock to make a living,
No computers, none of that, he used his two hands,
Ignored the cold war,
His wife would keep him warm.
On the weekends,
He'd load the car up with the kids and they'd go fishing,
No need to work an extra job, there's no recession,
Damn right he smiled a lot,
They lay awake at night,
So in love. "
nyeritain tentang bapak mereka, Roger Combs yang tiap pagi udah bangun trus kerja n menghabiskan weekend with family. So in love! waktu itu masih penuh ama kasih sayang. ya, as we know, Joel ma Benji kan pernah marahan more than 10 years with their Dad because of his bad attitude, ini juga tertuang dalam lagu The Young And The Hopeless
ama Emotionless . Nah, pas 1979 itu, si Roger masii baek2nya, blom bejat kayak yang diceritain di dua lagi itu, ya iyalah, pas 1979 kan Benji ma Joel kan baru lahir :D

lanjut ke Chorus :
" It was a good, good year, (oh uh oh)
The kids were all right,
"Highway to Hell" beat up "Stayin' Alive", (oh uh oh)
The Clash was on the radio,
And mum and dad were still in love,
In 1979,
It was a good, good year. "

pokoknya tuh tahun beneran taun yang indah deh, Roger n Istrinya a.k.a Madden's parent is still in love, tiap hari dengerin "Highway to Hell" ama "Stayin' Alive". karena taun segitu kayaknya blum marak tipi #sotoy, jadi pada genjar-genjarnya dengerin The Clash, one of a pop-punk legend. Well, as we know that Good Charlotte kan juga pop-punk. Pokoknya keadaan saat itu masii baik-baik aje, Benji-Joel masii senangnya ngerengek" karena masii baby. HAPPY FAMILY dah!

lanjut bait ke 3 :
" In the morning,
Robin always woke up early in the kitchen,
She'd make the coffee, pack his lunch and then she'd kiss him,
And he would hold her tight,
When they were newlyweds.
He'd say maybe,
And she would laugh, they knew they'd have another baby,
She'd slave away all day until dinner was ready,
And they would dance so slow to "Just the Way You Are"."

nah, kan di bait pertama bapaknya udah diceritain, giliran maknye donk sekarang, si Robin Madden. sebelum gua cerita tentang nih bait, kasih info dulu yak, biasanya kan marga anak" itu nurun dari bapaknya, nah, kenapa Benji-Joel pakenya malah Madden, bukan Combs, yang dari bapaknya. yak, ini juga dikarenakan bapaknya tadi, pas dia ninggalin tuh keluarga begitu aja gara" masalah yang melilit kayak ekonomilah, dll, si Benji-Joel ngubah marganya jadi Madden. as we know that they were born as Joel Ryan Reuben Combs and Benjamin Levi Combs. setelah peristiwa bapaknya minggat gak mau ngurus mereka lgi, jadi dah, ampe sekarang Joel and Benji Madden.
LANJUUUUT! nih bait nyeritain si Robin, seperti kebanyakan emak, juga pasti bangun subuh", bikinin kopi and nyiapin bekal suaminya, nyiapin sarapan, dapet jatah 'sun' tiap kali sebelum berangkat kerja :p. di bait ini kan juga ada lirik " And she would laugh, they knew they'd have another baby" . yap, Joel n Benji, tambah satu Josh, kakaknya, tapii ga diceritain di lagu ni, punya adek cwek namanya Sarah. lanjuuut, seperti kebanyakan keluarga di Amrik sana, abis makan malem pasti dansa", yah, pacaran at puber ke-2 lah #sotoy.

okeh, lanjut ke lirik" selanjutnya :
"All the decades and the years have passed,
Not every family is built to last,
No time can take away these memories,
Remember when you said to me,
That we'd be all right."

nah, so many years after 1979, everything's changing. Not every family is built to last . gak semua keluarga itu bakalan langgeng, sejahtera selamanya. kayak keluarga ini. udah gua ceritain tadi kan, si Roger minggat gara" masalah bejibun tuh keluarga. tapi bagaimanapun juga kan nggak ada mantan keluarga. sebejat"nya Roger dia masih ayah, bagian dari Maddens family. semua kenangan yang udah dia bkin, bareng Robin juga, n pasti Josh-Benji-Joel gak akan pernah terlupakan.

lanjut ke End Chorus
" Oh uh oh
Disco couldn't survive,
With the Dream Police and Rock 'N Roll High,
Blondie powered 'Heart of Glass',
And Mum & Dad bought their first house,
In 1979,
It was a good, good year.
It was a good, good year."

setelah di bait sebelumnya mereka kembali ke masa sekarang, ini mereka nostalgia lagi. menekankan bahwa apapun yang terjadi, IN 1979 IT WAS A GOOD GOOD YEAR! :)

Segini aja ya, dari gue, sorry kalo geje, maklum pertama kalinya gua coba nganalisis sebuah lagu murni dari pendapat gue bukan terinspirasi dari pendapat orang lain. yah, karena gua hobi nyari" info tentang keluarga pribadi Madden, jadi agak ngeh ama nih lagu :)

Kamis, 09 Juni 2011

Sombong

"Selalulah berendah hati, karena apalah manusia, hanya makhluk kecil yang tidak punya apa-apa. Sadarlah, apa yang kau punya di dunia ini hanya titipan dari Allah SWT"

I've just many times heard that quote! that's not frm people. no, no, not frm the public figure, just public opinion. Emang bener kok ya, kita ga boleh sombong. manusia tuh emang ga bisa apa-apa. bisanya cuma ngeluh dan minta. jadii n sepantasnya jadi kita ga boleh sombong. tapii sombong tetep perlu, bukan buat menyombongkan diri! tapi buat nyemangatin diri. seperti post gua sebelumnya, kadang kalau kita terjatuh, dan ngerasa udah ga bisa apa-apa, kita perlu sombong. perlu meyakinkan kalau kita itu nggak terjatuh, kalau kita belum habis, kalau kita belum kalah, kalau kita masih bisa berdiri, bahkan berlari, dan menang! kita harus sombong buat yakin!

#JUSTSAYING

" Kadang kita harus mengatakan bahwa kita tidak terjatuh,
hanya terpeleset untuk kembali berdiri dan berlari lagi."
"Kadang kita harus tertawa, padahal seharusnya kita menangis"
"Kadang kita harus sombong, agar kita bisa bangkit, tidak terpuruk, dan tetap bisa melanjutkan hidup ini"

Selasa, 03 Mei 2011

about northern downpour

tahu northern downpour? boleh sih menyebutnya sebagai nama fan Panic! at The Disco, karena emang itu namanya. tapi setelah saya join tumblr n ketemu sama beberapa dari mereka , they prefer to call themselves as 'Bagels', even though Ryro isnt there anymore. yaah, saya sendiri siih kurang tahu what Bagels really mean. karena emng belum sempat baca Ryro n Big bagels dilemma , ceritanya itu.
well, back to the topic! I dun wanna talk about Northern Downpour is the name of Panic! fans. but i wanna talk bout the song.

"If all my life is but a dream. fantastic possing greed then we should feed our jewelry to the sea. for diamonds do appear to be. just like broken glass to me"

begitulah kira-kira penggalan liriknya. hm,, dunno when I started loving this song. but yeaah, I do agree if people say this is the most relaxing song from Panic! At The Disco. karena emang bneer. yaah, emang sih lagunya rada sulit ditebak secara pasti apa maknanya, karena pake bahasa simbol yang teramat banyak dan cukup rumit. well, it's just proven that Ryro is truly a lyricsty ato apalah :p

tapi menurut gua pribadi, lagu ini bercerita tentang kehidupan kita-kita laahhh, Life is about a dream and any diamonds or whatever are just worthless. so we shouldnot be greed! life is bout a dream, makin dikutkan sama lirik

" Hey, moon, please forget to fall down. hey moon don't you go down"
People dnt wanna see morning cause when morning has come, we couldn't dream again, rite? ? ?

yaa, kira-kira gitulah, sbenarnya bukan itu saja, tapiii dasar gua emang ga pinter mengolah kata, takutnya malah banyak salah tafsir. padahal we have a right buat mengartikan sebuah lagu kan? orang bisa mengartikan lagu beda-beda, tergantung pada suasana mereka saat dengerin tuh lagu, latar belakang mereka, dll
well, well, before it goes too far, let's back to the topic! I just wanna say how I feel so relax whenever I listen to this song! dunno why n dun ask me why! cause when you really love sumthing you actually dun need any reasons for it. cause when the reasons are gone, it means you dun love it anymore! jaah, mulai geje daah. pokonya enak banget denger tuh lagu, musiknya yang lembut mengalun (bukan berarti kayak musik klasik) pokoknya instrumental yang perfect, lirik yang waw! dan gak ketinggalan suara B'den yang makin bikin betah buat dengerin nih lagu lama-lama